My Stories
Ini adalah cerita tentang perjuanganku untuk
menjadi seorang ibu. Sungguh begitu besar sebuah pengorbana yang harus
dilakukan oleh seorang ibu. Dari awal kehamilan hingga proses persalinan. Semua
proses tersebut sangatlah tidak mudah.
Awal kehamilan pertama, aku mengetahui bahwa aku
hamil, sekitar 1 bulan usia kandunganku. Waktu itu, sekitar puasa ramadan ke 6
aku sakit dan tak kunjung sembuh. Ku kira penyakit maagku kambuh dan sudah
berobat kemana-mana tak sembuh jua. Akhirya akupergi ke puskesmas desa ditemani
ole suami. Disana oleh bidan aku diminta untukmelaukan tes kehamilan, keeosaan
arinya aku melakukan tes kehamilan dan ternyata disitu aku positif hamil.
Betapa bahagia hati kami akhirnya hal yang kami nantikan kini datang. Syukur Alhamdulillah
Allah telah memberikan amanah berupa anak kepada kami.
Di awal kehamilan selain rasa bahagia yang
kami rasa,kami harus lebih bersabar karena saat hamil muda aku drop/ teler,
tidak bisa makan apa-apa. Mual muntah melanda. Sampai-sampai saat lebaran idul
fitri aku harus mendapatkan infus karena kekurangan cairan. Makan pun tak
nafsu, badan terasa lemas. Setiap mencium bau orang memasa muntah, bau keringat
suami muntah, seakan-akan aku tak mampu mengadapi itu semua. Hingga berat badan
turu derastis dan tekanan darah pun rendah. Sehari hanya mau makan sekali itu
pun hanya dengan nasi tiwul. Selain itu tidak mau atau muntah. Keadaan ini
berlangsung sekitar 7 bulan kehamilan setelah itu nafsu makan meningkat, suka
mengemil, terkadang masih muntah.
Menginjak usia kehamilan sembilan bulan,
perasaan gelisah melanda menantikan kehadiran sang buah hati tercinta.
Menjelang seminggu HPL (Hari Perkiraan Lahir) ak pergi kebidan untuk periks.
Ternyata kondisi saya lumayan memprihatinkan. Hb saya rendah, tekanan darah
saya tinggi dan sesak nafas. Akhirnya bidan merujuk saya kerumah sakit. Saya
pergi kerumah sakit yaitu kedokter spesialis kandungan. Menurut dokter, saya
sudah siap melahirkan, apabila dalam waktu seminggu belm ada kontaksi maka
pilhan terakhir yaitu dilakuka induksi/ pacu/rangsang. Dan dokter menyarankan
untuk tidak melahrkan dirumah atau di bidan karena kondisi saya yang tdak
memungkinkan.
Akhirnya aku dan suami sepakat untuk
melahirka dirumah sakit, dan mencari pendonor darah 3 orang. Karena saat melahirkan
nant, menurut dokter saya harus melakukan tranfusi darah karena Hb saya yang
rendah. Pada tanggal 23 Februari 2016, pagi hari saya cek ke bidan ternyata
saya sdah buka satu. Dan saya kembai pulang, sembari menunggu buka selanjutnya.
Tapi sampai qoblia isya sayabelum
merasakan apa-apa emudian saya cek ke bidan lagi. Kata bidan ini masih buka
satu manginjak buka 2. Selanjutnya, ba’da isya saya dibawa ke RSB. Asih,
sekitar pukul 21.00 saya mulai masuk ruangan dan melakukan proses
pacu/induksi/rangsang. Setelah itu saya merasakan sakit yang sangat hebat. Saya
sangat kesakitan sampai-sampai saya meremas-remas tangan suami saya. Ketika
buka 3 bidan berkata pada suami saya bahwa saya setelah melahirkan membutuhkan
tranfusi darah karena Hb saya sangat rendah yaitu 7,2. Minimal malam ini harus
ada 2 kantong darah. Saat itu suami saya binggung. Menelfon teman-temannya tak
ada yang mengangkat. dia berpamitan kepada saya bahwa dia akan donor darah,
awalnya saya tidak mau saya takut ditinggal sendiri dan akhirnya suami tetap
kekeh untuk donor darah. Alhasil saya ditunggu oleh bapak ibu saya. Suami saya
pergi untuk mencari pendonor darah.
Setelah suami pergi, saya merasakan kontraksi
yang semakin hebat seolah-olah saya tak mampu menahannya, ibu dan bapak saya
terus memberi saya semangat. Saat buka 5 suami menelfon bertanya tentang
keadaan saya. Dan bapak menjawab sudah buka 5. Kemudian telfon mati. Di PMI
suami bersama kakak-kakak nya akan melakukan donor. Ternyata kakak nya tidak
dapat donor karena tekanan darah nya tinggi. Akhirnya hanya dia yang bisa
donor. Tak berapa lama Alhamdulillah, Allah memberikan jalan kemudahan ternyata
ada yang mengembalikan darah yang golongannya sama dengan saya. Lalu oleh suami
saya dibeli darah tersebut. Syukur Alhamdulillah akhirnya suami saya
mendapatkan darah. Setelah itu, suami saya kembali ke rumah sakit. Disitu saya
sudah buka menuju buka sembilan. Dan
rasa nya semakin luar biasa sakitnya. Kata orang-orang
dipacu/diinduksi/dirangsang itu sakitnya sepuluh kali lipat dari sakit biasa
tanpa dipacu/dirangsang/diinduksi. Saat-saat menegangkan, suami lemas karena
habis donor darah, akhirnya bidan menyuruh suami saya istirahat. Setelah itu
sekitar hampir pukul 2 pagi saya buka 10 dan suami saya bangun untuk menemani
saya kembali. Bidan berkata kepala sudah terlihat. Saya mengejan tapi berulang
kali saya salah dalam mengejan. Sampai sepuluh kali mengejan akhirnya bayi saya
pun lahir. Syukur alhamdulillah lega rasa hati ini mendengar tangis bayi saya
yang telah lahir.
Setelah proses persalinan yang panjang saya
kemudian melakukan tranfusi darah dan dibawa keruang inap. Saya belum diizinkan
melihar bayi saya. Sakitar siang hari akhirnya saya dapat melihat puteri saya
yang mungil jelita. Bahagia hati ini melihat nya. Sungguh tak sanggup berkata
apa-apa. Hanya rasa syukur yang terus terucap. Begitu besar perjuangan seorang
wanita untuk menjadi seorang ibu, mulai dari mengandung 9 bulan sampai proses
melahirkan. Dan proses melahirkan itu sangatlah luar biasa perjuangannya.
Sangat besar maka betapa mulia perempuan di mata Allah. Wanita yang melahirkan,
Allah memberinya pahala syahid karena perjuangan yang sangat luar biasa.
SubhanaAllah, betapa Allah begitu memuliakan perempuan karena Allah memberikan
pahal bagi wanita yang mengandung, melahirkan, sampai ia mengurus anaknya
sampai dewasa.
Kini saya telah merasakan betapa besar
pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Sungguh luar biasa bahagia dapat
menyandang panggilan ibu. Bahagia dapat merawat anak. Jadi hormatilah ibu kita
semasih ia hidup didunia, sayangi ia, cintai ia, jangan kau pernah membuatnya
meneteskan air mata. Bahagiakan ia. Karena ia adalah mutiara yang tak ternilai
harganya. Ia adalah pahlawan tanpa bisa kita membalas jasa-jasanya.
Untuk Ibu-Ibu ku,,, Uhibbukum fillah..
Jazakumullah atas semua jasa-jasa yang telah
diberikan...
Untuk bidadari kecilku Zhafira Tazkiyyatun
Nafs Uhibbuki fillah



