Rabu, 09 Maret 2016

My Stories

Ini adalah cerita tentang perjuanganku untuk menjadi seorang ibu. Sungguh begitu besar sebuah pengorbana yang harus dilakukan oleh seorang ibu. Dari awal kehamilan hingga proses persalinan. Semua proses tersebut sangatlah tidak mudah.
Awal kehamilan pertama, aku mengetahui bahwa aku hamil, sekitar 1 bulan usia kandunganku. Waktu itu, sekitar puasa ramadan ke 6 aku sakit dan tak kunjung sembuh. Ku kira penyakit maagku kambuh dan sudah berobat kemana-mana tak sembuh jua. Akhirya akupergi ke puskesmas desa ditemani ole suami. Disana oleh bidan aku diminta untukmelaukan tes kehamilan, keeosaan arinya aku melakukan tes kehamilan dan ternyata disitu aku positif hamil. Betapa bahagia hati kami akhirnya hal yang kami nantikan kini datang. Syukur Alhamdulillah Allah telah memberikan amanah berupa anak kepada kami.
Di awal kehamilan selain rasa bahagia yang kami rasa,kami harus lebih bersabar karena saat hamil muda aku drop/ teler, tidak bisa makan apa-apa. Mual muntah melanda. Sampai-sampai saat lebaran idul fitri aku harus mendapatkan infus karena kekurangan cairan. Makan pun tak nafsu, badan terasa lemas. Setiap mencium bau orang memasa muntah, bau keringat suami muntah, seakan-akan aku tak mampu mengadapi itu semua. Hingga berat badan turu derastis dan tekanan darah pun rendah. Sehari hanya mau makan sekali itu pun hanya dengan nasi tiwul. Selain itu tidak mau atau muntah. Keadaan ini berlangsung sekitar 7 bulan kehamilan setelah itu nafsu makan meningkat, suka mengemil, terkadang masih muntah.
Menginjak usia kehamilan sembilan bulan, perasaan gelisah melanda menantikan kehadiran sang buah hati tercinta. Menjelang seminggu HPL (Hari Perkiraan Lahir) ak pergi kebidan untuk periks. Ternyata kondisi saya lumayan memprihatinkan. Hb saya rendah, tekanan darah saya tinggi dan sesak nafas. Akhirnya bidan merujuk saya kerumah sakit. Saya pergi kerumah sakit yaitu kedokter spesialis kandungan. Menurut dokter, saya sudah siap melahirkan, apabila dalam waktu seminggu belm ada kontaksi maka pilhan terakhir yaitu dilakuka induksi/ pacu/rangsang. Dan dokter menyarankan untuk tidak melahrkan dirumah atau di bidan karena kondisi saya yang tdak memungkinkan.
Akhirnya aku dan suami sepakat untuk melahirka dirumah sakit, dan mencari pendonor darah 3 orang. Karena saat melahirkan nant, menurut dokter saya harus melakukan tranfusi darah karena Hb saya yang rendah. Pada tanggal 23 Februari 2016, pagi hari saya cek ke bidan ternyata saya sdah buka satu. Dan saya kembai pulang, sembari menunggu buka selanjutnya. Tapi  sampai qoblia isya sayabelum merasakan apa-apa emudian saya cek ke bidan lagi. Kata bidan ini masih buka satu manginjak buka 2. Selanjutnya, ba’da isya saya dibawa ke RSB. Asih, sekitar pukul 21.00 saya mulai masuk ruangan dan melakukan proses pacu/induksi/rangsang. Setelah itu saya merasakan sakit yang sangat hebat. Saya sangat kesakitan sampai-sampai saya meremas-remas tangan suami saya. Ketika buka 3 bidan berkata pada suami saya bahwa saya setelah melahirkan membutuhkan tranfusi darah karena Hb saya sangat rendah yaitu 7,2. Minimal malam ini harus ada 2 kantong darah. Saat itu suami saya binggung. Menelfon teman-temannya tak ada yang mengangkat. dia berpamitan kepada saya bahwa dia akan donor darah, awalnya saya tidak mau saya takut ditinggal sendiri dan akhirnya suami tetap kekeh untuk donor darah. Alhasil saya ditunggu oleh bapak ibu saya. Suami saya pergi untuk mencari pendonor darah.
Setelah suami pergi, saya merasakan kontraksi yang semakin hebat seolah-olah saya tak mampu menahannya, ibu dan bapak saya terus memberi saya semangat. Saat buka 5 suami menelfon bertanya tentang keadaan saya. Dan bapak menjawab sudah buka 5. Kemudian telfon mati. Di PMI suami bersama kakak-kakak nya akan melakukan donor. Ternyata kakak nya tidak dapat donor karena tekanan darah nya tinggi. Akhirnya hanya dia yang bisa donor. Tak berapa lama Alhamdulillah, Allah memberikan jalan kemudahan ternyata ada yang mengembalikan darah yang golongannya sama dengan saya. Lalu oleh suami saya dibeli darah tersebut. Syukur Alhamdulillah akhirnya suami saya mendapatkan darah. Setelah itu, suami saya kembali ke rumah sakit. Disitu saya sudah buka  menuju buka sembilan. Dan rasa nya semakin luar biasa sakitnya. Kata orang-orang dipacu/diinduksi/dirangsang itu sakitnya sepuluh kali lipat dari sakit biasa tanpa dipacu/dirangsang/diinduksi. Saat-saat menegangkan, suami lemas karena habis donor darah, akhirnya bidan menyuruh suami saya istirahat. Setelah itu sekitar hampir pukul 2 pagi saya buka 10 dan suami saya bangun untuk menemani saya kembali. Bidan berkata kepala sudah terlihat. Saya mengejan tapi berulang kali saya salah dalam mengejan. Sampai sepuluh kali mengejan akhirnya bayi saya pun lahir. Syukur alhamdulillah lega rasa hati ini mendengar tangis bayi saya yang telah lahir.
Setelah proses persalinan yang panjang saya kemudian melakukan tranfusi darah dan dibawa keruang inap. Saya belum diizinkan melihar bayi saya. Sakitar siang hari akhirnya saya dapat melihat puteri saya yang mungil jelita. Bahagia hati ini melihat nya. Sungguh tak sanggup berkata apa-apa. Hanya rasa syukur yang terus terucap. Begitu besar perjuangan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu, mulai dari mengandung 9 bulan sampai proses melahirkan. Dan proses melahirkan itu sangatlah luar biasa perjuangannya. Sangat besar maka betapa mulia perempuan di mata Allah. Wanita yang melahirkan, Allah memberinya pahala syahid karena perjuangan yang sangat luar biasa. SubhanaAllah, betapa Allah begitu memuliakan perempuan karena Allah memberikan pahal bagi wanita yang mengandung, melahirkan, sampai ia mengurus anaknya sampai dewasa.
Kini saya telah merasakan betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Sungguh luar biasa bahagia dapat menyandang panggilan ibu. Bahagia dapat merawat anak. Jadi hormatilah ibu kita semasih ia hidup didunia, sayangi ia, cintai ia, jangan kau pernah membuatnya meneteskan air mata. Bahagiakan ia. Karena ia adalah mutiara yang tak ternilai harganya. Ia adalah pahlawan tanpa bisa kita membalas jasa-jasanya.
Untuk Ibu-Ibu ku,,, Uhibbukum fillah..
Jazakumullah atas semua jasa-jasa yang telah diberikan...
Untuk bidadari kecilku Zhafira Tazkiyyatun Nafs Uhibbuki fillah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar